Polisi Ungkap Praktek Jual Beli Satwa Dilindungi di Majalengka

0
Petugas Kepolisian dari Satuan Reserse Kriminal Polres Majalengka, Kapolres Majalengka AKBP Mariyono S.IK, M.Si menunjukan hewan satwa yang dilindungi saar gelar barang bukti kejahatan membeli dan memelihara satwa langka di Polres Majalengka. Senin, (12/11/2018)

MAJALENGKA, Jawa Barat – Perdagangan satwa dilindungi di Kabupaten Majalengka semakin marak akhir-akhir ini. Polisi hari ini membongkar praktek jual beli dan pemeliharaan satwa dilindungi secara ilegal.

Kapolres Majalengka, AKBP Mariyono S.IK, M.Si mengatakan, pihaknya menangkap satu pelaku berinisial FN Warga Majalengka Wetan, 22 tahun, Senin, (12/11/2018)

Kapolres menuturkan, selain dirumah tersangka sejumlah hewan ini ada juga yang diserahkan oleh warga. “Nuri Bayan, Nuri Raja Ambon, Kakatua Jambul Kuning, Kadal Berjumbai, Trenggiling, Kukang Jawa, Landak Jawa, dan Soa Soa layar.” tutur, Kapolres AKBP Mariyono didampingi, Wakapolres Kompol Ijang Safei, Kasat Reskrim AKP Wafdan di Mapolres Majalengka, hari ini.

Dari keterangan, tersangka membeli hewan-hewan tersebut secara online melalui media sosial.”Tersangka ini mendapat hewan satwa tersebut dari para pemburu. Dia bertemu dengan penjual di media sosial facebook kemudian ada pertemuan antara penjual dan pembeli. Kemudian menggunakan delivery order (COD) sesudah kirim gambar dan harga. Sampai di rumah baru dibayar,” ujarnya.

Kepala Resort Wilayah III Cirebon, Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Slamet Priambada mengatakan pihaknya telah banyak menemukan kasus jual beli dan pemeliharaan hewan dilindungi secara ilegal. Ia bahkan menyebutkan pernah menemukan transaksi para pelaku di jalan terbuka.

“Kasus seperti ini lumayan banyak kalau dilihat dari data. Kadang saya dulu pernah menemukan penyerahan di jalan, banyak,” kata

Slamet Priambada menuturkan, biasanya para pelaku bertemu dengan kedok kesamaan hobi di media sosial. Padahal apapun alasannya, memelihara satwa dilindungi dilarang dan bisa dikenakan tuntutan hukum.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak tergoda memelihara satwa dilindungi. “Kalau dia ada penawaran jangan dibeli, bahwa itu dilindungi ada ancaman pidana, ada denda,” ujarnya.

Slamet menambahkan, meskipun yang ditawarkan adalah satwa penangkaran, tetap harus melihat izinnya. “Hasil penangkaran bisa dipelihara kalau punya izin penangkaran dan dibuktikan dengan labeling. Kedua dia dituangkan dalam sertifikat itu membuktikan hasil penangkaran. Kalau tidak ada itu mungkin bukan dari hasil penangkaran,” katanya.

Dari pantauan, hewan satwa tersebut secara simbolis langsung diserahkan kepada petugas KSDA untuk dilepaskan kembali ke habitatnya dan kondisi hewan nampak dalam keadaan sehat. ** (Sigit).